Semoga Anda berkenan dengan suguhan artikel yang satu ini..
Peran Bush dalam Krisis Ekonomi Amerika Serikat, kredit macet properti di amerika, bangkrutnya Lehman brohters, Wall Street isu, Bank Sentral AS isu adalah serangkaian penyebabnya. Dibahas secara detail di sini dan efeknya secara global.

Peranan Presiden Bush
-
Paul O’Neill, Menteri Keuangan era Presiden George W. Bush yang telah dipecat oleh Bush, menuturkan : “Bush tidak memiliki logika dan alur pikir yang matang dalam memutuskan kebijakan, termasuk kebijakan ekonomi.”
-
Kisah O’Neill selama di Gedung Putih dituliskan dalam buku berjudul “The Price of Loyalty” mengisahkan cara Bush menjalankan pemerintahan AS di Gedung Putih.
-
Di dalam pertemuan-pertemuan kabinet, kata O’Neill, Bush seperti seorang buta di sebuah ruang yang penuh dengan orang tuli. Komunikasi tidak nyambung dan para pejabat tinggi hanya menduga-duga apa gerangan yang dipikirkan Presiden. Jika ada komunikasi, sifatnya hanya monolog.
-
O’Neill, yang waktu itu juga sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional, mengatakan 10 hari sejak pelantikan Bush sebagai presiden (awal tahun 2001), Saddam adalah topik kelas A. Tak ada gugatan dan tak ada pertanyaan mengapa Saddam harus dijatuhkan. Ketidak cocokkan O’Neill dan Bush soal Saddam menyangkut anggaran Pemerintah AS yang sudah defisit, tetapi masih harus membiayai invasi ke Irak, dimana sebelumnya telah melakukan invasi ke Afganistan.
-
Itupun belum cukup, Bush datang lagi dengan ide pembebasan pajak korporasi (perusahaan). O’Neill tak berdaya karena Wapres Dick Cheney menyeletuk : “Anda tahu Paul, Reagan telah membuktikan bahwa tidak ada masalah.”
-
“Masalah bukan hanya soal sikap saya pada penolakan pembebasan pajak, tetapi soal cara penggunaan sumber daya keuangan negara untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Saya kira kepentingan pemberian jaminan sosial jauh lebih penting ketimbang pembebasan pajak korporasi,” demikian diungkapkan oleh O’Neill
-
Kebijakan boros anggaran Bush juga mendapat kritikan keras dari klub Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti Paul Krugman dan Joseph Stiglitz. Kebijakan Bush menurut Krugman dan Stiglitz, mengakibatkan penumpukan utang, yang di bawah Bush saja bertambah 3 triliun dollar AS, terbesar sepanjang sejarah seorang presiden AS. Pajak yang seharusnya berperan sebagai sarana untuk distribusi pendapatan menjadi lenyap di bawah Bush.
-
Singkat kata, terjadi bolong-bolong ekonomi di sisi makro. Muncul defisit anggaran, defisit perdagangan. Kegiatan ekonomi rakyat yang seharusnya bisa mendapatkan stimulus dari distribusi pendapatan, tidak pula terwujud. Sinyal penurunan kinerja ekonomi AS makin jelas dengan terus anjloknya kurs dollar AS terhadap euro dan mata uang kuat dunia lainnya.
-
Peranan Wall Street
-
Secara perlahan jalan menuju kehancuran telah dimulai pula di Wall Street (Bursa Saham di New York). Pada awal kekuasaan Bush, muncul kebangkrutan Enron (2 Desember 2001), perusahaan raksasa perdagangan energi AS, yang melakukan manipulasi keuangan. Kasus ini ternyata tidak dijadikan sebagai bahan pelajaran, walau pemerintahan Bush pernah benjanji akan melakukan pembenahan terhadap korporasi.
-
Ternyata pembenahan tidak terjadi. Sejak 2001 muncul mainan baru, yakni pembangunan sektor perumahan di AS. Terjadi peningkatan harga rumah di AS sejak 2001 hingga 2005 yang menguntungkan banyak korporasi (perusahaan) penyedia pinjaman sektor perumahan.
-
Pembeli rumah diberi iming-iming bahwa membeli rumah tidak saja mendapatkan rumah, tetapi juga kekayaan karena rumah adalah investasi, didukung harga yang akan meningkat.
-
Ini benar-benar terjadi dan banyak warga yang diuntungkan sejak 2001. Bahkan rumah yang dibeli, meski dalam bentuk cicilan sudah pula bisa dipakai untuk agunan untuk meminjam uang di bank. Akhirnya sejak tahun 2005 ketika harga rumah sudah terlalu tinggi, maka terjadilah koreksi harga (harga mulai anjlok). Namun, aktivitas lembaga / korporasi keuangan penyedia pembiayaan perumahan AS lewat penerbitan obligasi, tak kunjung surut sejak 2005.
-
Contohnya Lehman Brothers (perusahaan yang perannya antara lain mirip bank investasi yaitu berperan sebagai perantara antara orang yang butuh biaya dan orang yang memiliki dana, merupakan perusahaan yang punya reputasi pengelolaan terbaik di Wall Street), adalah penjamin terbesar penerbitan obligasi untuk pembiayaan perumahan periode 2006-2007 dengan pangsa pasar sekitar 10 persen dari seluruh “mortgage bonds”. (obligasi/surat utang yang dijamin dengan agunan hipotik atas properti). Padahal, saat itu penurunan harga rumah sudah semakin terasa dan bahkan telah mengakibatkan letupan di bursa saham, antara lain pada Juli 2007.
-
Dengan menerbitkan surat berharga tersebut (surat utang/obligasi) yang dijual dipasar modal, maka Lehman mendapatkan dana yang kemudian disalurkan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal di sektor perumahan.
-
Rumah-rumah terus dibangun, sementara pembeli baru sudah jenuh, juga karena harga yang sudah terlalu tinggi, maka pinjaman yang dialokasikan ke sektor perumahan akhirnya tidak lagi bisa terbayar. Perusahaan yang mendapatkan pembiayaan dari Lehman tak bisa membayar utang-utang yang jatuh tempo. Lehman Brothers harus menanggung rugi dan harus membayar untuk harga itu !
-
Lehman bukan satu-satunya korban. Panik akibat kerugian, maka korporasi AS menciptakan surat utang baru, seperti “credit default swaps (CDS)” dan “collateralised debt obligations (CDO)”. Ini adalah obligasi derivatif yang tidak diatur oleh hukum dan tidak memiliki jaminan yang memadai (tidak dijamin oleh aset). CDS dan CDO dijual dengan tujuan untuk meraup dana dari investor, pemilik modal, yang kemudian disalurkan lagi ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan modal.
-
Praktek penjualan CDS dan CDO oleh korporasi keuangan AS ini disebut dengan istilah “reedem”, artinya “utang diganti dengan utang yang bertumpuk” (tutup lubang gali lubang). Hal ini bisa beresiko perusahan tersebut menggali lubang kematiannya sendiri. Badan Pengawas Bursa Saham AS (Securities and Exchange Commission) dan Departemen Keuangan AS tutup mata atas perihal risiko itu.
-
Perusahaan analis dan pemberi peringkat surat, seperti Moodys’s Investor Services dan Standard & Poor’s, tidak melakukan pekerjaannya secara baik. Aksi jual beli CDS malah marak karena diberi nilai “A” (peringkat mulai dari A, B hingga status “junk”/sampah), relatif aman.
-
Dalam transaksi jual beli CDS dan CDO ini, akhirnya terjadi lagi kegagalan bayar dari perusahaan yang dibiayai. Mengapa gagal ? Ini karena perusahaan yang dibiayai adalah para developer perumahan yang sejak tahun 2003 tak lagi mampu menjual rumah-rumahnya. Akhirnya bangkrutlah Lehman Brothers dengan meninggalkan utang sebesar 613 miliar dollar AS yang memicu kejatuhan saham di banyak negara !
-
Jumlah warga yang tak mampu membayar cicilan perumahan makin meningkat, menjadi 303.879 pemilik rumah per September 2008. Setelah harga perumahan terus anjlok, kekalapan Wall Street semakin menjadi. Merugi di perumahan, Wall Street menggasak di bursa komoditas dan minyak. Mendadak aksi beli komoditas melonjak tajam, sebuah aktifitas yang mengkagetkan pialang dan ahli ekonomi sekalipun ! Ganasnya aktifitas spekulatif yang dilakukan oleh Wall Street ini sempat memicu kenaikan harga minyak sampai ke harga 147 dollar AS per barel, namun Bush menepisnya dengan mengatakan bahwa kenaikan harga minyak terjadi karena keengganan OPEC menggenjot produksinya.
-
Peranan The Fed (Bank Sentral AS)
-
Praktek “redeem” yang artinya “utang diganti utang yang bertumpuk” (tutup lubang gali lubang), yang dilakukan dengan berbagai cara oleh korporasi keuangan AS, seperti menjual CDS dan CDO, potensi risikonya bisa terlihat dari catatan-catatan. Catatan ini bisa menunjukkan apakah perusahaan sudah menggali lubang kematiannya sendiri. Indikator seperti ini tidak diindahkan, bahkan mungkin dianggap tidak perlu. Bank Sentral AS (The Fed) sebenarnya berperan menghentikan praktek penggalian lubang kematian oleh korporasi keuangan AS, namun hal ini tidak dilakukan.
-
Usulan dari berbagai kalangan yang menghendaki adanya deregulasi / pengaturan (pembatasan) terhadap lembaga-lembaga keuangan AS, mendapat tentangan berat dari yang bersangkutan. Alasan pentingnya pengaturan tersebut, menurut Barney Frank, anggota DPR AS, Ketua Jasa Keuangan DPR AS, adalah karena lembaga (korporasi) keuangan AS telah terbawa arus bisnis dengan risiko tinggi tanpa pembatasan ! Menurut Senator Sherrod Brown (Demokrat, Ohio): “Ketiadaan peraturan telah membuat kerakusan Wall Street makin menjadi-jadi.”
Namun ide ini, kata Frank, juga mental di tangan pemerintahan Presiden George W. Bush yang memiliki opini sama dengan almarhum Presiden Ronald Reagan, bahwa pasar sebaiknya jangan diatur.
-
Niat yang rendah soal pengaturan itu bahkan telah menyusup pula ke Bank Sentral AS, sebagaimana diutarakan oleh Avery B. Goodman, ahli hukum sekuritas (surat-surat berharga). Menurut Goodman, sama seperti Depresi Besar 1929, di mana Bank Sentral AS juga menjadi penyebab depresi karena kebijakan yang blunder (keliru besar), krisis sekarang juga terjadi akibat peran Bank Sentral AS.
-
Bank Sentral mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan oleh Bank Sentral AS masa lalu yang menyebabkan Depresi Besar 1929 itu. Saat korporasi keuangan jorjoran mengucurkan kredit ke sektor perumahan yang sudah mulai gagal bayar, Bank Sentral AS malah menurunkan suku bunga dan mempertahankannya dalam waktu lama pada tingkat 1 persen.
-
Bank Sentral AS secara tidak langsung menyediakan dana-dana murah, yang turut menyulut spekulasi. Ini menciptakan jalan menuju Depresi Besar Jilid II dan pengulangan stagflasi parah yang terjadi pada dekade 1970-an.
-
Bank Sentral AS terus memasok dana ke pasar, di mana sektor keuangan sudah makin liar dengan menciptakan instrumen keuangan yang kompleks dan amat berisiko, termasuk subprime mortgage, Option-ARM mortgage, Alt-A, dan lainnya.
-
Lebih buruk lagi, Bank Sentral AS memasok pinjaman. Bank Sentral AS meminjamkan dana secara langsung kepada korporasi AS dengan jaminan yang tidak setimpal. Bank Sentral AS telah mengucurkan dana sebesar 777 miliar dollar AS dengan jaminan yang hanya senilai 171 miliar dollar AS ! Yang lebih mengejutkan lagi ketika terbongkar bahwa Bank Sentral AS Cabang New York, yang dipimpin Timothy Geithner, telah meminjamkan dana sebesar 10 miliar dollar AS kepada Lehman Brothers. Padahal saat itu semua orang, termasuk Timothy, tahu bahwa Lehman sudah insolvent (tidak mampu memenuhi kewajiban) !
-
Krisis Keuangan Dunia (Global)
-
Akhirnya AS menuai sendiri akibat keserakahan yang memunculkan krisis di sektor keuangan. Hal ini terjadi pada saat ekonomi AS sedang lesu, yang berakibat tidak bisa menolong penyelamatan korporasi yang sedang menuju kebangkrutan massal.
-
Celakanya krisis keuangan AS mengimbas ke negara-negara lain , sehingga terjadilah krisis keuangan global. Kejatuhan Lehman Brothers (Rabu 14 September 2008 Lehman resmi mengumumkan kebangkrutannya dan meninggalkan utang sebesar 613 miliar dollar AS) memicu kejatuhan saham di banyak negara yang memberi dana lewat Lehman. Masalahnya, banyak bank (termasuk bank negara-negara lain) yang memberi dana lewat Lehman. Akibatnya saham-saham bank dan perusahaan keuangan pemberi pinjaman kepada Lehman pun bertumbangan dan dicampakkan.
-
Diantara pemberi pinjaman dana itu antara lain Citigroup (138 miliar dollar AS) dan Bank of New York Mellon Corp (17 miliar dollar AS); Mizuho Financial, Aozora Bank, Shinsei, dan UFJ (Jepang); Standard Chartered (Inggris); serta ANZ (Australia).
-
Jadi kalau kekacauan ekonomi di AS akan merambat ke hampir seluruh dunia, itu merupakan konsekuensi dari perilaku masyarakat dunia yang terseret ke dalam irama permainan AS !
-
Pada Rabu, tanggal 8 Oktober 2008 , terjadi kepanikan pasar saham di Asia termasuk di Bursa Efek Indonesia akibat jatuhnya Indeks Dow Jones di New York sebesar 182,95 points menjadi 9.264,16 poin yang dipicu oleh kejatuhan sebelumnya sebesar 500 poin ditambah jatuhnya indeks Standars & Poor’s ke bawah 1.000 poin (terburuk sejak tahun 2003). Ini melengkapi kejatuhan sebelumnya di hampir semua bursa dunia dan melahirkan rekor baru. Index Harga Saham Gabungan (ISHG) di Bursa Efek Indonesia pada hari Rabu itu anjlok 168,05 poin atau turun 10,38 persen menjadi 1.451,66 poin. Otoritas Bursa Efek Indonesia akhirnya menghentikan sementara perdagangan (suspensi) seluruh saham dan derivatif, Rabu (8/10/’08) pukul 11.06 WIB karena penurunan ISHG sudah berada di luar batas kewajaran.
-
Pada hari yang sama Indeks Nikkei di Jepang anjlok 9,4 persen menjadi 9.203,32 poin, penurunan terbesar dalam sehari sejak Black Monday Oktober 1987 di AS. Indeks Kospi di Korea Selatan merosot 5,8 persen yang membuat penurunan Kospi mencapai 32 persen sepanjang 2008. Indeks Sensex di India turun 366,88 poin menjadi 11.328.36 poin, asing menarik dana 9,9 milar dollar AS dari pasar dan kerugian negara India akibat krisis keuangan global 47,5 miliar dollar AS.
-
“Planet keuangan negara berada dalam sebuah krisis total,” kata anggota Dewan Direksi Bank Sentral Eropa, Guy Quaden. Pemicu terbaru adalah penyerbuan yang dilakukan para nasabah terhadap bank di Eropa untuk menarik simpanan. Pemicu lain adalah keengganan sesama bank saling meminjamkan dana, yang memacetkan aliran dana perbankan, urat nadi perekonomian global. Hasil analisis Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan, krisis perbankan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menyebabkan resesi. Penurunan pertumbuhan setidaknya 2 kuartal berturut-turut sudah bisa disebut resesi.
-
Ironisnya, kejatuhan semua ini terjadi setelah paket dana talangan 700 miliar dollar AS sudah ditandatangani oleh Presiden AS George Walker Bush. Kejatuhan juga terjadi setelah Bank Sentral AS menjanjikan akan membeli surat berharga berjangka pendek senilai 900 miliar dollar AS dari pasar. Beberapa negara di Eropa juga menaikkan jumlah simpanan nasabah yang dijamin pemerintah. Namun semua ini tak mencegah kepanikan di bursa global. “Pasar tak bergerak. Penyuntikan dana bank sentral ke pasar sama artinya dengan transfusi darah ke tubuh manusia yang urat nadinya tersumbat,” kata Hiroichi Nishi, pialang di Nikko Cordial, Tokyo, Rabu.
-
Dari Hongkong ke Paris, Singapura ke Frankfurt, investor mencampakkan saham. Investor khawatir otoritas tak lagi berdaya menghentikan krisis keuangan terbesar global sejak Depresi Besar 1929 di AS. “Pasar modal seperti kerasukan dan penjualan massal terjadi secara global,” kata Matt Buckland, pialang dari CMC Markets, London.
-
Perdana Menteri Jepang Taro Aso juga memperlihatkan kepasrahannya. “Para pemimpin Uni Eropa sudah bertemu, tetapi tetap tak bisa meredakan gejolak pasar. Pasar Eropa malah bergejolak cepat dan substansial. Saya khawatir akan dampak dari krisis ini terasa di Jepang,” kata PM Aso merujuk pada pertemuan para pemimpin Uni Eropa, Sabtu lalu (4/10/’08).
– sekian –
sumber : iwandahnial
Berikanlah Komentar Anda
S I D E B A R
H O M E
Tell A Friend..
Komentar :
Nov 22nd, 2008 at 10:54 am
yauhui, di you tube ada video menarik tuh, ttg nasib presiden bush … (berita saluran televisi CNN). kalo bisa, anda buat postingannya, kan yauhui banyak pengunjungnya …