Setiap Orang menunggu seorang Pahlawan.. Padahal kepahlawanan tidak dapat dinantikan, tapi harus diupayakan dan dimunculkan dalam diri kita masing2. Mungkin Andakah pahlawan itu ?

Lukisan itu indah sekali. Sebuah pemandangan heroik pasukan berkuda yang tengah berbaris kokoh. Kuda-kudanya berdiri gagah dan berbaris rapi, ditunggangi prajurit-prajurit dengan mata tajam penuh semangat. Kepulan debu padang pasir dan warna jingga langit senja yang berawan tipis menambah hidup lukisan itu. Satu kuda di depan barisan itu tampak berbeda dari yang lainnya, lebih gagah dan lebih indah aksesorinya. Tetapi anehnya, kuda itu tidak ada penunggangnya. Di bawah lukisan itu tertulis sebuah pertanyaan dalam bahasa arab, “mataa jaa-a shalahuddin?” (kapan Shalahuddin datang?).
Saya tidak melihat lukisan yang dipamerkan di sebuah festival di Kuait itu, tapi kira-kira seperti itulah Dr. Thariq Suaidan menggambarkan lukisan itu dalam sebuah acara yang diliput Chanel Iqra, Saudi Arabia. “Kalaam faarig!” (omong kosong!) Dr. Suaidan menanggapi lukisan yang digambarkannya itu. “Para pahlawan seperti Shalahuddin bukan untuk dinanti, tetapi harus dilahirkan,” sambungnya.
Saya lalu teringat pada buku Ust. Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia. Semangat buku itu sama dengan semangat tanggapan Dr. Suaidan terhadap lukisan tadi. Bahwa pahlawan itu tidak turun dari langit yang tinggal kita tunggu saja. Lalu saya pun meraba diri, sayakah pahlawan itu? Seketika kesadaran memberikan gambaran yang sangat jelas tentang begitu banyaknya kekuranganku, sekaligus gambaran betapa berat dan panjangnya jalan menuju kejayaan, hingga kemenangan itu semakin sulit dirasionalkan. Semua kondisi sulit ini hampir menjawab pertanyaanku, bahwa saya bukanlah pahlawan itu. Tapi kata Ust. Anis, pahlawan juga manusia biasa. Saya sedikit terhibur.
Kalau kehadiran pahlawan itu bukan sesuatu yang cukup dinantikan tapi harus dilahirkan, saya berpikir apa yang bisa diperbuat untuk menghadirkan pahlawan oleh orang-orang biasa seperti saya, seorang mahasiswa? Atau ibu saya, seorang ibu rumah tangga? Atau adik-adik saya, yang bukan orang dengan posisi yang penting?
Kemudian saya kembali bertanya, mungkinkah saya jadi pahlawan itu? Atau kalau tidak, mungkinkah satu dari keluarga saya? Atau, mungkinkah satu di antara anak-anakku kelak? Seseorang dari kampungku? Seseorang dari kampusku? Atau seseorang dari tanah airku? Ah, sebenarnya saya ingin, sayalah pahlawan itu. Atau paling tidak anak-anakkulah pahlawan itu.
Saya semakin asyik berpikir tentang pahlawan. Lalu saya mulai membandingkan, ketika seusiaku, para pahlawan sudah berbuat apa? Misalnya, ketika seusiaku (bahkan lebih muda dariku) Imam Syahid Hasan Al-Banna sudah mengasas organisasi Islam terbesar abad ini, Ikhwanul Muslimin. Lalu bagaimana dengan saya? Terlalu jauh. Saya juga sering mencari-cari, adakah kebiasaan yang saat ini saya miliki yang akan menjadi benih dari karya-karya besar kepahlawanan? Karena saya percaya pada apa yang pernah dikatakan Aristoteles bahwa keunggulan itu bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan. Sayangnya, saya hampir tidak menemukannya.
Walau demikian, saya bersyukur karena saya punya orang-orang seperti Dr. Thariq Suaidan dan Ust. Anis Matta yang telah menanamkan benih-benih kepahlawanan dalam benak saya. Mungkin saat ini nilai-nilai kepahlawanan itu baru sekedar mimpi dan lintasan pikiran yang menari-nari di benak. Tetapi, seiring dengan waktu, saya yakin persepsi itu akan mengkristal, dan pada momentumnya yang tepat akan menjadi kekuatan besar yang mampu melahirkan karya besar kepahlawanan. Insya Allah.
Sekali lagi, kalau bukan saya, mungkin satu dari anggota keluarga saya. Atau satu dari anak-anak saya. Atau paling tidak satu dari kampung saya. Atau bahkan mungkin Anda yang sedang membaca tulisan ini. Yang pasti pahlawan itu akan lahir dari orang-orang yang dalam benaknya sudah tertanam benih-benih kepahlawanan untuk menjawab kekhawatiran sejarah, yang kata Ust. Anis, tengah mandul (tidak mampu melahirkan) pahlawan. Insya Allah.
Akhirnya, saya teringat pada sebuah pesan dalam pepatah Arab, “Serupailah orang-orang terhormat, jika kalian tidak bisa sama persis seperti mereka. Karena menyerupai orang-orang terhormat adalah (kunci) kemenangan.” (tasyabbahuu bilkiraam inlam takuunnuu mitslahum, fainnat-tasyabbuhu bilkiraam falaahun). Wallahu a’lam.
Perindu Pahlawan,
Ayahnya Zawwad Abdurrahman
(Pernah dimuat di eramuslim.com, ditulis ulang 14 November 2007 tepat ketika Zawwad berusia 9 bulan)
2 Komentar Terbaru :
[ Beri Komentar Anda - Website ini berkembang bila Anda ikut memberi komentar ]
S I D E B A R
H O M E
Tell A Friend..
Dec 20th, 2008 at 9:18 am
mulai sekarang saya akan selalu meneriakkan sebuah kalimat yang sangat indah buat saya yaitu “SAYA ADALAH SEORANG PAHLAWAN……SAYA ADALAH SEORANG PAHLAWAN………SAYA ADALAH SEORANG PAHLAWAN……..SAYA ADALAH SEORANG PAHLAWAN………………….SAYA ADALAH SEORANG PAHLAWAN
reply:
hebat dah.. :peace:
gw msh belum..
Dec 7th, 2008 at 6:31 pm
jadilah pahlawan bagi diri sendiri dulu dan bagi keluarga kita.. :peace:
YauHui.net:
betul, daripada menunggu seorang pahlawan menolong kita..
lebih baik kita berupaya untuk menolong diri kita sendiri..
dan semuanya harus dimulai ke diri sendiri.. baru bisa ke orang lain.