
Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.
Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.
Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)
Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA 22-09-200
Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.
Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.
“Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.
Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.
Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.
Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?
Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.
Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.
Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.
Apa itu?
Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.
Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu…
Apa artinya street smart?
Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja?
Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.
Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?
Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.
Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” ?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya…. Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha.
Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.
Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.
Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?
Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan.
Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?
Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.
Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?
Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?
Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.
Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.
Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual bell handphone.
Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan…
Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.
Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?
Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.
Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan?
Rasionalnya di mana?
Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “Jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.
Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…
Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.
Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?
EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.
Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?
Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.
Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?
Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?
Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa…. Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.
Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.
Bangkit
Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari “impian-Nya”.
Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.
Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.
Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.
Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.
Penglihatan Pikiran
Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi.
Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran. Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak (sumber : www.purdiechandra.com)
sumber url : http://www.bisnisentrepreneur.blogspot.com/
48 Komentar Terbaru :
[ Beri Komentar Anda - Website ini berkembang bila Anda ikut memberi komentar ]
S I D E B A R
H O M E
Tell A Friend..
Mar 8th, 2010 at 7:59 pm
=D> jagooo
Mar 5th, 2010 at 3:49 pm
muantap. pa kapan akan ada lagi seminar di bdg?
Feb 25th, 2010 at 5:08 pm
huebat,,,,,,,,, !!!!!!!1
Jan 8th, 2010 at 11:25 am
hebat banget…bapak dalam pengembangan wira usahanya,saya ingin belajar dengan bapak purdi.Saya S1 bidang pendidikan tp sampe skarang blm jd pengjr…sukuan pun blm,skrang sulit bangt,setelah membaca artikel bapak saya jd berminat jd wiraswasta.
Dec 16th, 2009 at 6:56 pm
emang mantap pa =D>
Dec 16th, 2009 at 6:55 pm
emang mantap pa
Dec 15th, 2009 at 1:03 pm
=D> ingin ikut sukses lahir bathin………..
modal kok lom cukup……….
Dec 7th, 2009 at 11:43 am
saya lulusan imki metro lampung,

saya pgn ngliat yg namanya pak purdi yg berhasil itu >:D<
tapi kenapa pas waktu pelepasan purna siswa itu pak purdinya gak datang
Nov 26th, 2009 at 11:53 am
=D> salludd
Nov 12th, 2009 at 12:51 pm
=D>
Hebat,…
[…] membawa ke puncak sebuah kesuksesan. Sebagai contoh saja untuk bahan renungan kita bisa membaca artikel keberhasilan bimbingan belajar “Primagama” . Disini banyak diuraikan perjuangan yang gigih dari pak Purdi Chandra membawa bimbingan belajar […]
Oct 22nd, 2009 at 9:33 am
Hee kalian tu pada ngomentari bapakQ tow??? Gmn? hebat tow bapakQ,koyo aq.hahaha….
do anyel mesti….. 
Oct 20th, 2009 at 10:18 am
so inspiring..
Oct 16th, 2009 at 6:14 pm
huebatttt…..kisah suksesx aq jdikan bhn inspirasi buat sy… :)>- :)>-
Oct 2nd, 2009 at 1:08 am
memang kadang kesukseskan tidak berpacu/berakar dari Ijazah, banyak sukses itu diawali dari keterampilan, dan kesenangan/hoby.
Aug 31st, 2009 at 11:13 pm
salam sukses buat BOZZnya E.U
kini telah lahir era baru yaitu ERA PENGUSAHA GILA di INDONESIA yg di motori oleh sang INSPIRATOR (PURDI E CAHANDRA).
beliau telah mengubah pola berpikir saya.
thanks banyak banget buat BOZZnya E.U
Aug 29th, 2009 at 10:30 pm
keren bagus banget…………… =D> =D> =D>
Jul 31st, 2009 at 11:22 am
saya ingin gabung komunitas pengusaha yang di bina pak purdi dimana ya bisa gabung di yogya dan biayanya berapa?
Jul 29th, 2009 at 4:23 pm
hebaaaaaaat banget,,,,, :applause: p’purdi menginspirasi saya

Jul 11th, 2009 at 12:32 pm
menantang, merangsang,…dan nyeni…
sebuah inspirasi berharga bagi kawula muda kreatif….
untuk mandiri, maju dab berbagi…bravo Purdi… :applause:
Jul 9th, 2009 at 11:28 pm
Trimakasi Pak Purdi karena pendapat beliau saya dan sering berbincang2 dengan beliau waktu saya mengurus KPR dan MuLtI GUNA (masi ingat pak?)sekarang alhamdulillah saya sudah mempunyai usaha dan alhamdulilah saya undur diri dari bank mandiri secepatnya tahun lalu dan memajukan diri menjadi wiraswasta, pak…..
Jul 5th, 2009 at 11:14 pm
May 26th, 2009 at 1:23 pm
Oke banget kisah suksesnya, membuat saya terpacu untuk slalu mencoba n trus mencoba dengan hal yg baru.Salam sukses :applause:
May 21st, 2009 at 12:11 am
Saya adalah pengagum Bapak, saya koleksi buku2 karangan P Purdi. Setahun lalu suami kena PHK langsung saya ajak ikut seminarnya P Purdi & saya minta ikut EU juga, ankatan 27 kalu ga salah. Alhamdulillah habis ikut EU sdh langsung buka usaha dan hasilnya jg ga kalah dg gajinya waktu masih bekerja dulu. Terimakasih Pak atas bimbingan & pencerahannya, kalu bisa ada forum untuk sharing gitu pak supaya masing2 alumni EU bisa saling bertukar cerita dan saling menyemangati untuk terus maju.
Untuk Pak Purdi & rekan2 yang membutuhkan ruang usaha atau ingin investasi di bid. property, saya punya stock ruko di lokasi sangat strategis di TangCity Tangerang- Jl. Jend. Sudirman no:1 Tangerang. Lokasi menyatu dg TangCity Residence & TangCity Mall.
Bagi yang berminat bisa hub saya : LESTARI telp 021-92955350
May 18th, 2009 at 12:09 pm
Siiip :applause: ………. Semangat berusaha seperti itu bisa kita jadikan contoh


Kayak iklannya Coca Cola itu lho…. Anything’s Possible gt………..
Jangan menyerah !!!!!!!!
May 12th, 2009 at 10:35 am
benar skali.. ap yg pak purdi alami itu semua adalah proses untuk menjadi sukses…
Alhamdulillah sy jg pny Dream Mapping yg sdh sya jalani sejak SMA, walopun msh kuliah, sy sdh mencoba utk membuat ush…
Trmksh ats Artikelnya.. Very Inspairing me.. :applause:
Apr 29th, 2009 at 10:46 pm
MAS PURDI HEBAT. CITA-CITANYA LEBIH HEBAT LAGI. GABUNG DONG, SAYA MC MANTEN JAWA.
Oct 22nd, 2009 at 9:35 am
Heii mc jawa rapatut blas wat gabung,mulio wae,gek turu,kelonan ro Pakmu,,, Anyel msti.Wakakakka…..
Apr 25th, 2009 at 12:58 am
eee…jalan jalan kok nemuin blog ini ya…
oke deh ikutan nimbrung..klik di http://www.eusalatigablogspot.com ja ya
[…] (1959-…) Iwan Nurdaya Djafar (1959-…) Syafruddin Arsyad Temenggung (1959-…) Purdi E. Chandra (1959-…) Rio Mendung Thalieb (1961-…) Zulkifli Hasan (1962-…) Hamid Basyaib […]
Mar 25th, 2009 at 11:26 am
Mar 21st, 2009 at 3:37 pm
Kisah sukses yang digambarkan OM Purdi Luar biasa. Saya pribadi sangat sependapat dengan gagasan Om Purdi.
Salam Sukses dan salam Kenal sari saya
M. Rudi Hartono ( Guru SMA Tunas Luhur Paiton - Probilinggo)
Mar 11th, 2009 at 12:58 pm
saya EU 6 di karawang…….saya pikir mudah utk melawan peadam kebakaran tp nyatanya sulit karna pemada kebakaran itu ortu saya…saya mulai usaha asesories tp alhamduliiah skarang barang laku uang lum kumpul karna orang yang saya percaya gax da kabarnya .loh kok jadi curhat
Feb 23rd, 2009 at 8:38 pm
Luar Biasa Mbah Purdi, Sebelum Saya bertemu Anda, Mungkin yang ada saya adalah kuliah, dapet gelar, trus cari kerja, sekarang alhamdulilah hanya dengan modal sedikit pinjam dari bank, saya bisa bikin pabrik kecap dan sudah berjalan lebih dr 6 bulan, dan sekarang saya mendirikan usaha gerai penjualan burger yang akan di franchisekan dengan Brand ” AJIB BURGER ” paket counter lengkap hanya Rp.2.500.000,- Info Hubungi Ajib.burger@gmail.com dan 085759708702 ( Apik S Rijal )atau Lihat di http://www.waralabaku.com/for_detil.php?fid=663
Feb 23rd, 2009 at 4:00 pm
wah wah saya setuju bgt sama bpk purdi
Feb 22nd, 2009 at 9:28 am
PRIMAGAMA memang Bimbingan paling hebat di Indonesia :applause:
Feb 19th, 2009 at 3:16 pm
Rasa syukur saya tak terbatas,,
ide-ide,gagasan dan pikiran serta prinsip beliau yang memberikan motivasi bagi saya untuk segera bertindak. memang dengan entrepreneur bisa membuat hidup kita menjadi lebih hidup…y gak,,?orang mana sih yang gak mau jadi orang sukses..??? hidup kaya,bahagi, banyak amal dan menafkai banyak orang[-X
Tetap utamakan spiritual dan barengi dengn ihtiar,sungguh itu yg hanya bisa kita lakukan. kata pepatah “teman qt merupakan cerminan dari diri qt” mulai sekarang ubah mindset berfikirlah ingin jadi pengusaha, dan bergabung dengan komunitas para pengusaha sukses..dengan izinNYA mudah-mudahan sukses seperti mereka……amin….
Oy Bpk Purdi, sy udh punya usaha tu,,pemasaran batik Solo ke Riau..mhon diEU nanti Sy diberi trik ampuh untuk pengembangan usaha. bantu saya y pak Purdi,,sya mau buka usaha lagi sebanyak-banyaknya diRiau sana..
SALAM SUKSES PENGUSAHA!!!
Feb 18th, 2009 at 7:07 pm
sebagai seorang pelajar,saya sgt berterima kasih atas rwyt sekilas ttg beliau,membwt sy dpt berpikir maju k depan ttg bisnis stlh sy lulus……. :applause: :peace:
Feb 16th, 2009 at 1:25 pm
:applause: RRRuarrr biasaaa.
smoga ini bisa jadi inspirasi buat saya. :pray: semoga saya bisa mengikuti jejak pak purdie ini. Amin. sukur-sukur melebihinya…Aminnn. :peace:
Feb 15th, 2009 at 3:22 pm
salam pak purdi
sy sangat salut dg pak purdi dg berbagai usahanya
saya tinggal di Kebumen, jawa tengah
sebenarnya sy juga sdh muluai usha dagang, tapi sy kepengin mengembangkan menjadi lbh besar,
sy kepengn sekali mengembangkan dan mengerjakan orang2 sekampung
untuk bis berkreatif yang menghasilkan.
Saya jualan SOUN ( MIE PUTIH) YANG TERBUAT DARI TEPUNG ganyong ( org jogja bilang ganjlong), kami jualan untuk keperluan pedagang bakso, sop dan soto. maf s baru aja bisa internet tan belum lama pak…
sy kepengin sekali memasarkan soun yang kami jual untuk jakarta dan kota-kata besar lainya. soun kami sangat bagus dan bisa bersaing dengan soun2 hasil dari Klaten Jawa tengah. jika bpk mempunyai atau memberi kami untuk mensuplau kota-kota besar kami siap melayani dalam partai besar. H. KUSWORO
Feb 14th, 2009 at 9:58 am
wah wah wah patut ditiru tapi kebanyakan masyrakat indonesia masih berjiwa pembantu
masih disayangkan termasuk aku juga
hehehe, thanks ya pak purdi semoga artikel ini bisa merubah jalan pikiranku matursuwun banget lho :hug:
Jan 15th, 2009 at 11:45 am
Dulu saya juga pernah ikut seminar “Cara Gila Jadi Pengusaha” di Hotel Singgasana, Makassar. Tapi waktu itu saya tiba-tiba di panggil oleh orang tua kembali ke Masamba (Luwu Utara) karena ada kegiatan yang sangat mendesak, sehingga pelatihan selanjutnya saya tidak sempat ikuti. Sekarang saya ingin sekali ikut pelatihannya. Apakah masih ada kesempatan berikutnya di Makassar? Mohon Infonya, Pak..
:applause:
Dengan melihat kisah Pak Purdi, mungkin kurang lebih seperti itulah yang saya rasa. Saya merasa bosan di kampus. Saya ingin sekali membuka usaha. Tapi saya ingin mendapatkan trik-triknya yang benar. Karena kata Robert T Kiyosaki adalah “Belajarlah dari kesalahan orang lain”. Impianku semua ini muncul berkat saya membaca buku dari The Cashflow Quadrant dan Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian dari Valentino Dinsi. Sekali lagi, mohon diberi info. E-Mail saya : mhan165@yahoo.co.id
NH : 081354615xxx
Thanks B4…
Reply:
harap maklum, blog ini hanya menampilkan kisah bpk purdi e chandra
kita sendiri tidak ada afiliasi dengan beliau..
pasti ada no. telpnya pihak purdi yang bisa Anda hubungi..
salam,
Jan 10th, 2009 at 10:33 am
purdi e chandra salah satu idola :
banyak inspirasi yang saya dapatkan dari beliau . . pak.purdi kapan kita bisa temu …
…. sukses dan jaya bersama . . . .
Jan 8th, 2009 at 4:17 pm
Maaf ini bukan bentuk komentar, tapi berupa batuan info saja.
:pray:
Saya pernah ikut seminar ” CARA GILA JADI PENGUSAHA” angkatan ke IV. di Kota Banjarmasin, namun baru 1x ikut hadir disana saya diundang oleh Kakak saya untuk berkunjung ke Arab Saudi untuk menunaikan Ibadah Haji, sampai sekarang ini saya masih tinggal di sana kerna merasa masih betah.
Yang saya tanyakan disini adalah bagaimana saya bisa kontak dengan Pa Purdi, tolong bagi kawan kawan yang punya No telp nya agar dapat membantu dan mengirimkan ke email saya ini:(panintisar@yahoo.co.id)
atas bantuannya saya ucapkan terima kasih .
Wassalam dari saya,
H.Erpan.A
Dec 28th, 2008 at 3:20 pm
hebat saya sekali mas purdi,bisa mengembangkan pemikiran bukan sekedar intelegensi saja…..saya dan teman2 diorganisasi saya juga sedang membuka bimbel untuk SMP&SMA….dari sisni saya dapat belajar bahwa usaha yang kita jalani ternyata jangan hanya untuk saat ini dan diri ini saja tapi harus jauh dari…..Thanks mas sekali lagi saya merasa mendapat pencerahan baru mohon Do’anya juga semoga bisa berhasil seperti mas Purdi juga :applause: :pray:
Nov 18th, 2008 at 7:02 pm
kisah suksesnya dalam bidang usaha bimbel mungkin dapat memberikan ilham bagi kita2 semua.. :peace:
Apr 15th, 2009 at 10:22 am
huebatt,,,,,,,,,, :applause: love you p.purdi

Dec 25th, 2009 at 8:57 pm
kita mirip bos :)http://www.yauhui.net/wp-includes/images/smilies/yahoo_peace.gif>- :)>-